Menyatukan Perbedaan Dengan Musik

Menyatukan Perbedaan Dengan Musik – 2016 menjadi tahun lahirnya sebuah festival musik baru dengan konsep ciamik. Festival musik lokal bernama Synchronize Fest menawarkan sesuatu yang lebih heboh untuk para pecinta musik Tanah Air. Ini merupakan festival musik multigenre tahunan berskala nasional yang mengundang puluhan ribu audience untuk menikmati keberagaman jenis musik hasil karya anak bangsa. Festival musik akbar ini hasil gagasan kolaborasi antara Dyandra Promosindo dengan label rekaman independen Demajors.

Selama tiga hari kemarin mulai terhitung dari tanggal 28 hingga 30 Oktober 2016 para pecinta musik berkumpul di area Gambir Expo, JIExpo Kemayoran, bersuka ria menyaksikan band – band favoritnya. Sebelumnya pihak Synchronize Fest telah mengkonfirmasi 104 musisi 100% lokal silih berganti tampil menghibur audience selama tiga hari, tiga malam, di lima panggung. Bisa dibilang, ini festival musik lokal terlengkap yang pernah ada sebelumnya. Karena di festival ini berhasil mengumpulkan musisi – musisi terfavorit juga terbaik dari dekade ’70-an, ’80-an, ’90-an hingga 2000-an.

Menariknya, dari sekian banyak musisi, hampir semua genre ada di festival ini. Mulai dari Hip Hop, Reggae, R&B, Jazz, Metal, Rock, Grindcore, Blues, Punk, Alternative, Post Rock, Folk hingga alunan Dangdut yang legendaris. Ini adalah Bhineka Tunggal Ika dalam musik. Tiga hari berturut – turut kami mengikuti festival multigenre ini. Tapi, tidak semua artis kami bisa menontonnya. Jadwalnya banyak yang berbenturan. Ribuan penonton hadir di Synchronize Fest itu benar – benar terpecah konsentrasinya dengan sajian lima panggung yang disuguhkan penyelenggara. Hanya beberapa saja yang sempat dilihat aksi panggungnya. Seperti di hari pertama, kami baru bisa mendarat di depan panggung Lake Stage untuk melihat penampilan unit rock berbahaya Kelompok Penerbang Roket.

Itu pun datang agak terlambat. Penampilan SORE terlewatkan begitu saja yang naik panggung sekitar lima sore. Karena hari itu sempat dihambat hujan lebat yang mengguyur Jakarta sejak siang hari. Meskipun begitu, masih banyak line up yang bisa disaksikan. Setelah kuping dipanaskan oleh gempuran musik rock dari Kelompok Penerbang Roket, langsung berpindah ke panggung sebelah kiri untuk melihat projek kolaborasi antara Dialog Dini Hari & Endah ‘N Rhesa (DDHEAR). Suasana di depan panggung Dynamic Stage saat itu cukup ramai. Ya bisa dibilang di hari pertama ini mereka menjadi salah satu line up yang dinanti oleh penonton. Lagu “Jangan Engkau Berhenti Bernyanyi” terdengar sejuk di telinga.

Apa lagi ditambah suasana sehabis hujan, mendengar dan melihat langsung penampilan DDHEAR membuat kekesalan akan kemacetan Jakarta di hari Jumat pasca hujan terlupakan seketika. Mereka juga memainkan Lagu milik masing – masing, seperti lagu “Tentang Rumahku” milik Dialog Dini Hari, hingga lagu hits “When You Love Someone” milik Endah ‘N Rhesa. Setelah itu kembali lagi ke panggung Lake Stage. Di sana Ras Muhammad sedang mengudarakan alunan Reggae yang cukup menghanyutkan. Malam itu Duta Reggae Indonesia tersebut tampil apik. Ia berhasil mengikat penonton dengan irama dancehall yang kental dan lirik bersemangat yang penuh kuasa.

Tak sampai habis menontonnya, kami pun langsung menuju Forest Stage agar tidak ketinggalan penampilan Scaller. Sebelumnya, kami memang sudah mengincar melihat penampilan band ini. Unit alternative rock asal Jakarta ini memang sedang diperhatikan dan banyak diperbincangkan di scene indie. Band yang diperkuat oleh vokalis sekaligus gitaris Reney Karamoy dan vokalis sekaligus pemain synth Stella Gareth naik panggung sekitar setengah sepuluh malam. Kehadiran mereka di festival ini cukup menjadi magnet. Banyak penonton yang berbondong – bondong melihat aksi panggungnya.

Beberapa materi yang dibawakan, seperti The Youth, A Song, hingga Live And Do. Puas melihat Scaller, sasaran selanjutnya adalah The Upstairs. Penonton pun berbondong – bondong langsung menuju Forest Stage agar tidak terlambat melihat aksi band yang membawa nuansa musik new wave. Dengan dandanan khas, Jimi dkk langsung menghentak panggung dan mengajak modern darling, sapaan untuk fansnya berjoget masal. Meskipun sempat mengalami bongkar pasang personil. Band asal Jakarta ini sangat fenomenal, dari era album Matraman hingga Katalika, The Upstairs masih eksis.

Malam itu, modern darling tak segan joget saat dikomandoi Jimi dari atas panggung. Karoke masal pun terjadi saat mereka membawakan “Matraman”. Hampir tengah malam, hari pertama Synchronize Fest belum selesai sepenuhnya. Tenaga masih disisakan untuk menggila bersama Teenage Death Star. Band rock asal Bandung itu mulai main sekitar jam setengah dua belas lewat. Tetapi, yang agak disesalkan TDS main di Gigs Stage. Sebuah ruangan kira – kira seukuran rumah tipe 36. Seru, tapi jadi penuh sesak dengan fans TDS yang tidak mau melewatkannya. Apa lagi mereka tidak bisa diam saat Sir Dandy, Helvi, Alvin, Satrio dan Firman membawakan lagu – lagu andalan, salah satunya “I’ve Got Jhony In My Head”. Bisa dibilang Teenage Death Star masuk dalam list band fenomenal yang dimiliki Indonesia.

Jumlah fansnya besar. Tapi, dalam setahun band rock pengusung semboyan skill is dead ini belum tentu manggung. Sekalinya manggung, tidak ada kata setengah – setengah. Langsung tampil ugal – ugalan. Bahkan tidak segan mereka meminta para fansnya memainkan alatnya. Band langka. Dedengkot rock ini menjadi penutup hari pertama di perhelatan musik multigenre nasional yang menguras tenaga. Synchronize Fest, sebuah pengalaman datang ke festival musik dengan penuh gairah dan energi. Di hari kedua musisi yang tampil lebih heboh lagi. Sayang, karena lagi – lagi Jakarta diguyur hujan deras sejak siang hari, rencana menonton Laid This Nite & Lala Karmela, Monkey to Millionaire, The Hydrant, dan Matajiwa yang main saat hari masih terang terlewatkan.

Di tanah air ini konser musik sering kali diselenggarakan dan setiap konset tentunya selalu ada sosok genset yang selalu siap memberikan kebutuhan listrik dalam skala yang sangat besar. Tidak mudah dalam memilih sebuah genset yang tepat digunakan dalam konser, pasalnya konser bisa berlangsung dalam beberapa jam dan memerlukan listrik yang sangat besar, sehingga dibutuhkankan sebuah genset yang mempunyai tenaga besar dan siap digunakan dalam jangka waktu lama, contohnya yanmar.

Karena banyaknya yang memerlukan yanmar generator, bukan hal sangat aneh bilamana tempat jual genset yanmar murah semakin banyak jumlah di tanah air kita ini.